My Slide

Rabu, 16 Februari 2011

[From :Reisha Amanda]

Reisha Amanda Mengirimkan Anda berita TEMPOinteraktif.com

-------
Catatan dari Reisha Amanda

-------

Untuk melihat berita ini, silahkan klik di http://www.tempointeraktif.com/hg/hukum/2010/06/21/brk,20100621-256954,id.html


Ahli: Dasar Pembentukan Satgas Anti-Mafia Hukum Kuat  

Senin | 21/Juni/2010

Ahli hukum pidana dari Universitas Indonesia, Rudy Satrio, mengkritik gugatan uji materi yang diajukan aktivis Petisi 28 atas Keputusan Presiden Nomor 37 Tahun 2009 tentang Pembentukan Satuan Tugas Pemberantasan Mafia Hukum.

KEPEMIMPINAN PELAYAN

KEPEMIMPINAN PELAYAN
Definisi kepemimpinan pelayanan
Kata pelayan dan pemimpin sering dianggap sesuatu yang berlawanan, bila digabung, maka lahir konsep kepemimpinan pelayan memberi kerangka kerja yang memampukan banyak individu untuk dapat memberi bantuan dalam memperbaiki cara memperlakukan pihak lain yang bekerja diberbagai organisasi. Kepemimpinan pelayan memberi harapan dan bimbingan demi terciptanya pengembangan manusia di era baru ini. hubungan antara pencapaian makna hidup dengan kepemimpinan pelayan adalah pada perilaku pemimpin pada pengikut atau pada organisasi  
Ada beberapa pengertian kepemimpinan pelayan, menurut beberapa tokoh administrasi Negara, anata lain :
Menurut Robert Greenleaf, 1970: kepemimpinan pelayan merupakan model kepemimpinan yang memperioritaskan pelayanan kepada pihak lain, baik kepada pegawai (anggota) organisasi, pelangan, maupun masyarakat. Kepemimpinan pelayan ditandai dengan meningkatnya keinginan melayani pihak lain dengan melakukan pendekatan menyeluruh pada pekerjaan, komunitas, dan proses pengambilan keputusan yang melibatkan semua pihak. Esesiensi dari model ini adalah melayani orang lain, yaitu pelayanan kepada pegawai, pelanggan, dan masyarakat sebagai perioritas utama. (Sedarmayanti. 2009. Hal, 202).
Sedangkan didalam buku Servant Ledership, kepemimpinan pelayan berawal dari perasaan yang tulus yang timbul dari hati, berkehedak melayani, yaitu menjadi pihak pertama yang melayani. Pilihan bersal dari suara hati, kemudian menghadirkan hasrat ingin menjadi pemimpinperbedaan pelayanan yang diberikan adalah memastikan kebutuhan pihak lain dapat dipenuhi, yaitu menjadikan mereka sebagai orang yang labih dewasa, sehat, bebas, dan otonom, akhirnya menjadi pemimpin berikutnya.
Menurut Hector Ruiz, tugas pemimpin adalah melayani, pemimpin terbaik adalah pelayan terbaik, kepemimpinan merupakan pendekatan baru. Kepemimpinan pelayan adalah model kepemimpinan yang mencoba secara simultan meningkatkan pertumbuhan personal pegawai dan memperbaiki kualitas pelayanan organisasi melalui kombinasi kerja sama tim dan pengembangan komunitas, keterlibatan personal dalam proses pembuatan keputusan, serta perilaku peduli dan etis. (Sedarmayanti. 2009. Hal, 202).
Menurut Spears, 1995, karakteristik yang membedakan kepemimpinan pelayan dengan kepemimpinan yang lain adalah keinginan untuk melayani hadir sebelum adanya keinginan untuk memipin. (Sedarmayanti. 2009.203).
Konsep kepemimpinan pelayan adalah konsep yang mengubah pendekatan kepemimpinan secara revolusioner dan pribadi, konsep ini bukan perbaikan serba cepat atas dasar persoalan yang dihadapi pemimpin. Kepemimpinan pelayan mengguanakan pendekatan mendasar dan bersifat jangka panjang. Tujuan utama kepemimpinan pelayan  adalah melayani dan memenuhi kebutuhan pihak lain, yang secara optimal seharusnya menjadi motivasi utama kepemimpinan. (Sedarmayanti. 2009. Hal 203).
Model Perilaku dan Fokus Utama Pemimpin Pelayan
Pengembangan pegawai
Tindakan pemimpin secara aktif dan terus-menerus mengembangkan pegawai/ anggota organisasi akan menciptakan kepuasan kerja dan meningkatkatnya kemitmen organisasi, selain membuat visi bersama dan deskripsi pekerjaan berbasis pekerjaannya secara signifikan
Penciptaan Nilai Tambah bagi Pelanggan
Pegawai yang tingkat kepuasan dan komitmennya tinggi terhadap pekerjaan dan organisasi serta memiliki performansi kerja baik, otomatis terus berusaha melayani pelanggan dengan segenap hati.
Terciptanya Kepuasan Pelanggan
Nilai tambah yang diberikan organisasi melalui pegawai kepada pelanggan membuat pelanggan puas akan produk/ jasa yang mereka beli. Kepuasan yang dihasilkan dan tercipta dalam berbagai kesempatan akan membuat pegawai loyal dank omit pada organisasi.
Keberhasilan Organisasi Berkesinambungan
Proses keberhasilan untuk meningkatkan pendapatan dan keuntungan organisasi akan terjadi terus-menerus, dan diperkuat, sehingga mengakibatkan keberhasilan abadi. (Sedarmayanti. 2009. Hal. 204).
Karakteristik Pemimpin Pelayan
Menurut Larry Spears, 1995, antara lain :
Mendengarkan 
Empati
Menyembuhkan
Kesadaran diri
Persuasif
Konseptualisasi
Kemampuan melihat masa depan (memiliki visi)
Kemapuan melayani
Kemitmen pada pertumbuhan individu
Membangun komunitas (Sedarmayanti. 2009. Hal. 206-207).
Menurut Jim Laub, 1999, antara lain :
Menghargai orang lain
Mengembangkan orang lain
Mengambangkan komunitas
Memperlihatkan autensitas
Memberikan kepemimpinan
Berbagi kepemimpinan (Sedarmayanti. 2009. Hal. 207-208).


Model dan Karakteristik Pemimpin Pelayan Menurut Kathlen Patterson, 2003
Cinta kasih
Pemimpin melakukan sesuatu yang baik dengan alasan benar pada saat tepat
Rendah ahti
Kemampuan menjaga keseimbangan anatara kemapuana yang dimiliki dan kesadaran bahwa apa yang telah dicapai pemimpin dapat terjadi karena kemampuan dan sumbangsih pengikut, bukan karena diri sendiri
Altruisme
Tindakan membantu orang lain secara tulus
Memiliki visi
Pemimpin membangun visi organisasi melalui visi pengikut secara agregasi
Rasa percaya
Pengikut percaya bahwa bekerja di organisasi dengan pemimpin pelayan akan mengarah pada tercapainya visi pengikut.
Memberdayakan pihak lain
Mempercayakan kekuasaan kepada pihak lain, kemudian menyatakannya. Membuat setiap pengikut merasa berarti, penting dalam organisasi dan pekerjaannya, menekankan pada kerja sama tim, menghargai kasih dan persamaan
Melayani
Pelayanan harus menjadi fungsi utama kepemimpinan, bukan berdasar kepentingan diri tetapi lebih pada kepentingan orang lain. (Sedarmayanti. 2009. Hal. 208-209).


Ukuran Keberhasilan Pemimpin Pelayan dan Proses Pembentukan Pemimpin Pelayan
Ukuran keberhasilan pemimpin pelayan
dalam budaya timur pemimpin dinilai berhasil bila mencapai tingkat kearifan dan wibawa tinggi ditengan masyarakat. Dalam budaya barat, pemimpin dinilai berhasil berdasarkan prestasi dan sumbangsihnya kepada masyarakat. Secara umum wibawa yang dimiliki pemimpin atau prestasinya tidak akan berumur lama bila tidak secara sengaja menyiapkan pemimpin baru. Pemimpin yang matang menyadari bahwa pola/ gaya dan paradigmanya baik untuk masa di mana ia melayani. Di masa mendatang, corak lingkungan kerja, dinamika organisasi dari komunitasnya akan berbeda sehingga diperlukan pendekatan, pola,dan praktik kepemimpinan. Pemimpin yang berhasil adalah pemimpin yang memiliki kesadaran hidup komunitas yang dipimpinnya, pemimpin sejati lebih mengutamakan kesejahteraan orang lain dari pada kenikmatan dan martabatnya sendiri. (Sedarmayanti. 2009. Hal. 210).


Proses pembentukan pemimpin pelayan
Pemimpin dapat dibentuk/ diciptakan melalui berbagai pelatihan dan pengalaman dalam waktu tertentu. Pemimpin bukan seorang yang dilahirkan untuk itu, tetapi diperlukan kerja keras dan lingkungan yang tepat untuk dapat belajar, tumbuh menjadi pemimpin yang efektif. (Sedarmayanti. 2009. Hal. 210).


Faktor Utama Pemimpin Dipercaya Menjadi Pemimpin Pelayan menurut Robby Chnadra
Telah menampilkan pengabdian
Memiliki keunggulan
Handal dalam menggali makna hidup/ makna keberadaan komunitas/ organisasi, (Sedarmayanti. 2009. Hal. 213).


Hambatan dalam Praktik Kepemimpinan Pelayan dalam Organisasi menurut Barry Foster, 2000
Rasa tidak percaya dan ekspektasi yang tidak realistis 
Konflik terhdap kepepemimpinan yang ada sebelumnya 
Tidak ada atau lemahnya kerja tim 
Konflik terhdap keinginan untuk  melayani diri sendiri dan sistem penghargaan yang ada 
Proses komunikasi dan kolaborasi yang tidak efektif 
Proses pembelajaran n pengembangan tidak berjalan baik, (Sedarmayanti. 2009. Hal. 213).


Praktik Kepemimpinan Pelayan Terkait Strategi Usaha dan Kebijakan
Alokasi keuntungan bersih
Porsi lebih besar diberikan untuk pengembangan anggota organisasi (kesejahteraan/ bonus, pelatihan, tunjangan, kesehatan, dan lain-lain.
Pelatihan diberikan untuk pengembangan anggota, seperti : peningkatan keterampilan, profesionalisme, emosional dan spiritual
Sisa keuntungan untuk pengembangan organisasi dan pemegang saham, sosial kemasyarakatan, besar nilai yang diberikan pihak tergantung situasi dan rencana strategic organisasi


Manajemen kinerja
Sepanjang periode (tahun) berusaha mengembangkan pengikut, bukan hanya pada evaluasi di akhir periode. Akhir periode untuk evaluasi menyeluruh dan pengembangan lebih lanjut
Kompensasi
Memegang asas “tumbuh bersama”. Besarnya perkembangan oragnisasi. Pendirian organisasi masih rendah, dengan pertumbuhan organisasi akan semakin besar, sifatnya bisa tidak linier. Berbagai bonus, tunjangan, dan alokasisaham organisasi ditawarkan dan diberikan pada anggota secara murah hati
Rekruitmen
Lebih mencari karakteristik yang melekat, seperti : etos kerja dan standar etika tinggi, memiliki integritas dan mau melayani orang lain. Hal ini sulit dirubah dan dipelajari. Pengalaman dan pengetahuan menjadi perioritas kedua, karena dapat dan diberikan organisasi dalam berbagai bentuk pelatihan, bimbingan, dan promosi
Jenjang karier/ promosi
Mengembangkan kebijakan untuk terus menumbuhkembangkan anggota organisasi, setiap posisi lowong diusahakan diisi dahulu oleh anggota internal. Promosi ditekankan pada promosi internal. Berusaha “mengarahkan” anggota agar mencapai tahapan manusia dewasa seutuhnya
Orang luar akan dilibatkan hanya jika anggota organisasi tidak memiliki kemampuan/ talenta yang diperlukan mengisi posisi, (Sedarmayanti. 2009. Hal. 216-217).


















Contoh Kepemimpinan Pelayan “Kesuksesan Kabupaten Jembrana”
Anda keliru bila menganggap Kabupaten Jembrana memiliki banyak modal sehingga mampu memberlakukan KTP semacam smart card dan berencana menyelenggarakan pemilu berteknologi touch screen. Sebab, sebelumnya, Jembrana memiliki dana yang sangat terbatas dan tergolong kabupaten miskin di Bali. Meski demikian, hal tersebut justru memicu pemerintah setempat untuk memanfaatkan sumber daya yang ada.
Adalah Bupati Jembrana, I Gede Winasa, yang menjadi tokoh di balik besarnya nama Kabupaten Jembrana saat ini. Bekal pengalaman menimba ilmu di Universitas Hiroshima dan Universitas Tokushim (Jepang) mampu ia manfaatkan bagi Kabupaten Jembrana, terlebih sejak ia didapuk menjadi bupati pada tahun 2000. Salah-satu hal yang bisa ia tiru dari Negeri Sakura adalah implementasi teknologi informasi bagi semua sektor.


 Kebijakan-kebijakan yang diambil oleh Winasa pun bisa dibilang sangat “pro rakyat”. Ia melibatkan sumber daya manusia yang seluruhnya berasal dari Jembrana untuk bersama-sama mewujudkan ide pembangunan teknologi digital. Ia menerapkan apa yang dinamakan manajemen "DOA", yaitu manajemen atas Dana, Orang, dan Aset. Dan yang menjadi pilar-pilar kokohnya adalah ketegasan dan ketelitian.
Bahkan, saat baru saja menjabat sebagai bupati, Winasa membentuk dewan antikorupsi sendiri. Para pejabat yang ketahuan gemar menyedot uang negara segara diperiksa, ditindak, diadili, dan dipecat. Bahkan guru-guru yang mencari uang tambahan dari murid pun bisa dipastikan terkena tindakan. Semua itu dilakukannya dengan berbekal filosofi bahwa "yang sakit diobati, yang rusak dicabut". Tak mengherankan bila banyak terdapat baliho bertulisan ”Anda Memasuki Kawasan Bebas Pungli” yang terpasang di tiap pintu gerbang masuk halaman Pemkab Jembrana.
Pembangunan teknologi digital di Kabupaten Jembrana memang telah menghabiskan biaya yang sangat besar. Dan ini barangkali menjadi sebuah pertanyaan besar bagi kita, bagaimana mungkin Kabupaten Jembrana yang angka APBD-nya relatif kecil bisa membangun infrastruktur jaringan yang begitu besar, sementara banyak daerah lain yang angka APBD jauh lebih besar belum bisa membangun e-government dengan baik. Semua itu karena manajemen keuangan di Kabupaten Jembrana untuk pembangunan ICT dikelola secara baik dengan menggunakan strategi pembiayaan gotong royong.
Berkat penerapan teknologi digital secara optimal, pada tahun 2006 lalu, Kabupaten Jembrana berhasil meraih piala Citra Bhakti Abdi Negara, Piala Citra Pelayanan Prima, dan Piagam Penghargaan Citra Pelopor Inovasi Pelayanan Prima. Selain itu, juga berkat keseriusan menerapkan teknologi, Pemkab Jembrana menjadi kabupaten pertama di Indonesia yang mampu mengolah air laut menjadi air minum tawar beroksigen.
Atas semua keberhasilan itu, hingga kini Winasa kerap dikunjungi para tamu dari berbagai instansi pemerintahan lainnya di seluruh Indonesia. Bahkan selama 2008, ia harus menerima tak kurang dari 500 tamu yang datang dari berbagai tingkatan, misalnya menteri, gubernur, kolega sesama bupati atau wali kota, dan kepala-kepala dinas yang ingin melakukan sudi banding.
Pengalaman Kabupaten Jembrana menunjukkan bahwa political will, terutama dari pemimpin daerah, adalah faktor penentu keberhasilan sebuah program kerja. Sepanjang sang pemimpin memiliki keberpihakan kepada rakyat dan memiliki pemikiran yang terbuka terhadap perkembangan teknologi, segala kelemahan atau keterbatasan pasti bisa diatasi. (Sumber : Harian Kompas, Frans Sarong, 07 Mei 2010).








Analisis Contoh
Kabupaten Jembrana adalah sebuah daerah yang kecil dan SD yang terbatas, tetapi dengan kelihaian seorang pemimpin yang berbasis pada kepentingan umum dari pada kepentingan peribadi serta partisipasi masyarakatnya yang tinggi, dapat menciptakan Kabupaten Jembrana menjadi sebuah contoh pelayanan yang baik di salah satu Kabupaten di Indonesia. Image ini bukan hal yang mudah untuk dicapai, akan tetapi membutuhkan waktu yang lumayan panjang sehingga terciptalah pelayanan yang berbasis pada masyarakat. Salah satunya adalah Jembrana Smart Card dan penggunaan Touch Creen, kartu tersebut dapat digunakan masyarakat dalam segala hal, sehingga tidak perlu memiliki banyak kartu setiap individu, ini merupakan terobosan baru yang akan mempermudah masyarakat serta dapat memberikan pelayanan yang baik untuk masyarakat. 
Sesuai dengan pembahasan di atas, kepemimpin pelayan yang berbasis pada kepentingan orang lain atau masyarakat, untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang lahir dari hati yang tulus tanpa mengharapkan imbalan lebih dari masyarakat itu sendiri. sama halnya dengan contoh di atas, seorang yang telah mengenyam pendidikan di Jepang, dan dia kembali ke Indonesia khusunya ke Jembranan dengan niat untuk membangun daerah tersebut dalam rangka untuk melayani masyarakat dan memberikan yang terbaik buat masyarakat di Jembrana. Rencana beliau berhasil hingga sekarang. Sejak beliau menjadi pemimpin Kabupaten Jembrana dikenal oleh Negara. dan menjadi contoh bagi banyak daerah lain di Indonesia yang belum mencapai kesuksesan. 
Pencapaian Kabupaten Jembrana adalah bergerak pada bidang pelayanan publik serta realisasi kebijakan pemerintah yang baik. Hal ini dapat dibuktikan dari segi kehidupan masyarakat setempat, semua kebutuhan mereka dapat dikelola dengan baik, serta partisipasi masyaraktnya terhadap pelayanan yang ada cukup tinggi. Sehingga terjadi hubungan saling melengkapi dan saling koordinasi antara pemerintah, swata serta masyarakat yang dapat menciptakan suatu daerah yang berhasil seperti Kabupaten Jembrana. 


DAFTAR PUSTAKA
Sedarmayanti. 2009. Reformasi Administrasi Publik, Reformasi Birokrasi, dan  
       Kepemimpinan Masa Depan. Bandung: Refika Aditama
Greenlef, Robert, K. 1999. Reflections On Leadership. Batam : Interaksasa



BIROKRASI DALAM OTONOMI DAERAH: Upaya Mengatasi Kegagalan

MANDA ARYAN SARI
0816041005




Birokrasi menurut Kamus Bahasa Indonesia edisi ketiga tahun 2002dijalankan adalah: “system yang dijalankan oleh pegawai bayaran yang tidak dipilih oleh rakyat”. Birokrasi harus ada di dalam suatu Negara dan para birokratnya diangkat atau ditunjuk untuk menjalankan pemerintahan secara professional. Para birokrat dibayar untuk menjalankan system pemerintahan suatu Negara. Ciri seorang professional, ia tidak boleh memihak atau dengan kata lain, ia harus netral.  Guy Benveniste dalam bukunya berjudul Birokrasi (1989) mengartikan birokrasi identik dengan “administrasi”. Dalam bukunya Ia berbicara tentang masalah-masalah organisasi dan manajemen sebagai aspek-aspek administrasi. Konsep John Stuart Mill tentang birokrasi menegaskan bahwa diluar bentuk perwakilan, hanya birokrasilah yang memiliki keterampilan dan kemampuan politik yang tinggi. Pekerjaan menjalankan pemerintahan oleh orang yang memerintah secara professional merupakan esensi dari birokrasi. Pemerintahan seperti itu hanya dapat dicapai melalui suatu pengalaman, pelatihan dan tata krama yang baik, dengan mengaplikasikan pengetahuan praktis yang tepat dan etos kerja yang tinggi.
Sejauh ini ada lima ciri fungsi birokrasi yaitu:
·   Memenuhi tatanan internal organisasi dan keamanan eksternal organisasi;
·   Menjamin keadilan di lingkungan masyarakat;
·      Melindungi kebebasan individu berdasarkan peraturan dan norma adat istiadat yang berlaku di   masyarakat;
·   Mengatur tindakan individu agar individu tidak menjadi liar;
·   Meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Birokrasi di Indonesia lebih condong berasal dari konsep birokrasi continental. Dilihat dari perspektif perbandingan yang luas, semua Negara Eropa memiliki tipe yang sama yaitu: diperintah oleh pejabat. Pejabat selalu diidentikan dengan birokrat atau pemerintah. Tidaklah mengherankan para pengamat birokrasi di Indonesia mengartikan birokrasi sebagai: segala aspek yang terkait dalam pengkridaan wewenang, tugas atau tanggung jawab pemerintah melalui pejabat atau pegawainya (Sujamto:1992).
Dalam perkembangannya orang selalu tidak lepas dari pemikiran bahwa baik buruknya birokrasi identik dengan baik buruknya pemerintah, atau kebobrokan  birokrasi adalah kebobrokan pemerintah. Biasanya kebobrokan birokrasi ini bersumber dari mental para birokrat yang menciptakan kondisi sedemikian rupa, sehingga menimbulkan biaya tinggi dan pemborosan waktu. Hal ini antara lain disebabkan oleh etika birokrat yang sangat rendah dan mendahulukan kepentingan pribadi dari pada kepentingan umum atau masyarakat yang dilayaninya. Pada saat seperti itu yang selalu disalahkan adalah peraturan perundang-undangan sebagai aturan main dan system yang berlaku. Banyaknya peraturan yang harus dilewati sehingga memakan waktu. Ketidakjelasan peraturan membuat birokrasi sulit mengembangkan prinsip-prinsip dan fungsi-fungsi organisasi, dalam hal ini organisasi pemerintahan. Sementara itu, sering juga para birokrat memanfaatkan keberadaan birokrasi untuk kepentingan pribadinya dengan cara melakukan penyimpangan terhadap prosedur dengan mengkomersialisasi jabatannya.

Konsep Birokrasi Ideal
Max Weber memandang birokrasi rasional atau ideal sebagai unsur pokok dalam rasionalisasi dunia modern, yang baginya jauh lebih penting dari seluruh proses sosial. Diantara yang lain, proses ini mencakup ketepatan dan kejelasan yang dikembangkan dalam prinsip memimpin organisai social. Dengan sendirinya hal ini memudahkan dan mendorong konseptualisasi ilmu sosial, dan bantuan konseptual teori Weber tentang birokrasi terletak pada penelasan ketika Ia mendiskusikan tipe rasional yang murni (Martin Albrow, 1989:32).

 Karya Max Weber itu sekarang dikenal sebagai konsep birokrasi ideal. Menurut Weber yang secara singkat disebutkan dalam bukunya Miftah Thoha menyatakan birokrasi yang ideal yang rasional yaitu dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:
1.    Individu pejabat secara personal bebas, akan tetapi dibatasi oleh jabatannya manakala ia menjalankan tugas-tugas atau kepentingan individual dalam jabatannya.
2.    Jabatan itu disusun dalam tingkatan hierarki dari atas ke bawah dan kesamping.
3.    Tugas dan fungsi masing-masing jabatan dalam hierarki itu secara spesifik berbeda satu sama lainnya.
4.    Setiap pejabat mempunyai kontrak jabatan yang harus dijalankan.
5.    Setiap Pejabat diseleksiatas dasar kualifikasi professionalitasnya, yang idealnya dilakukan melalui ujian yang kompetitif.
6.    Setiap pejabat mempunyai gaji termasuk hak untuk menerima pensiun sesuai dengan tingkat hierarki jabatan yang disandangnya.
7.    Terdapat struktur pengembangan karir yang jelas dengan promosi berdasarkan senioritas dan merit sesuai dengan pertimbangan objektif.
8.    Setiap pejabat tidk dibenarkan menjalankan jabatannya dan resources instansinya untuk kepentingan pribadi dan keluarganya.
9.    Setiap pejabat berada di bawah pengendalian dan pengawasan suatu system yang dijalankan secara disiplin.

Secara garis besar, konsep birokrasi ideal tersebut didukung oleh Michael Parenti dalam buku Riyaas Rasyid, yang menyimpulkan karakteristik birokrasi secara garis besar adalah
ü             Mobilisasi yang sistematik dari energi manusia dan sumberdaya material untuk mewujudkan tujuan-tujuan kebijakan atau rencana-rencana yang secara eksplisit telah didefinisikan.
ü             Pemanfaatan tenaga-tenaga karir yang telah terlati, yang menduduki jabatan-jabatan bukan atas dasar keturunan, dan yang batas-batas yuridiksinya telah ditetapkan secara spesifik.
ü             Spesialisasi keahlian dan pembagian kerja yang bertanggung jawab kepada suatu otoritas atau konstituensi.
Birokrasi dan Regulasi
Birokrasi sangat diperlukan oleh setiap Negara. Pentingnya peranan pejabat yakni sebagai pelaku pejabat dalam penyelenggaraan tugas-tugas Negara. Pada hakikatnya adalah organisasi jabatan-jabatan, dan pemerintahan sebagai subsistem dari Negara juga merupakan organisasi jabatan-jabatan, dimana masing-masing mengemban fungsi-fungsi tertentu yang hakikatnya merupakan pecahan-pecahan dari tugas pokok pemerintah atau Negara.

Untuk melaksanakan semua tugas pokoknya itu, pemerintah membuat aturan-aturan (regulasi) demi ketertiban dalam pemenuhan kebutuhan dan kepentingan seluruh anggota-anggota masyarakat yang dilayani, sehingga semuanya berjalan dengan lancer. Karenanya, lahirlah birokrasi bersama-sama dengan regulasi. Keduanya merupakan “nyawa” pemerintah pada khususnya dan organisasi pada umumnya yang harus ada.

Jadi, birokrasi dan regulasi memang harus selalu ada selama pemerintah ada. Upaya debiirokratisasidan deregulasi (yang biasanya digunakan untuk mengatasi semua hambatan pencapaian tujuan pokok pemerintah), merupakan upaya modulasi untuk mengoptimalkan jalannya birokrasi. Seni menjalankan pemerintahan adalah menjaga agar semua itu berada dalam kadar yang optimal. Birokrasi dan regulasi diperlukan untuk menjaga ketertiban, kebenaran, keamanan, dan kepatuhan terhadap standar. Tetapi birokrasi dan regulasi selalu membawa konsekuensi kelambanan proses dengan segala dampaknya yang negative. Memadukan kepentingan akan ketertiban, keamanan, dan kebenaran disatu pihak dengan kepentingan kelancaran dan kecepatan proses di lain pihak, itu merupakan seni menjalankan pemerintahan. Tetapi berdasarkan pengalaman, seni tersebut  harus selalu dibarengi dengan kualitas intelektual dan keterampilan para penyelenggaraan pemerintahan serta manajemen yang baik.




Perkembangan Birokrasi di Indonesia
Perkembangan birokrasi yang pada intinya dilaksanakan oleh para birokrat atau pegawai negeri di Indonesia, tidak jauh berbeda dengan pengalaman negara sedang berkembang lain yang mendapat kemerdekaannya setelah Perang Dunia II. Di Indonesia ketentuan- ketentuan universal tentang pejabat negara juga tampak di dalam UUD 1945 (sebelum amandemen) pejabat negara adalah
1.        Presiden dan Wakil Presiden
2.        Anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)
3.        Mahkamah Agung (MA)
4.        Dewan Pertimbangan Agung (DPA)
5.        Menteri- menteri
6.        Duta dan Konsul
7.        Gubernur, Bupati/ Walikota
8.        Jabatan-jabatan lain.

Di Indonesia sebagai salah satu negara sedang berkembang terdapat empat tujuan, tugas dan kewajiban utama pemerintah dapat kita lihat jelas dalam isi Pembukaan UUD 1945, yaitu:
1.        Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia;
2.        Memajukan kesejahteraan umum;
3.        Mencerdaskan kehidupan bangsa;
4.        Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.
Kecuali tugas keempat yang menyangkut politik luar negeri, maka ketiga tugas lainnya itu semuanya mengacu kepada kepentinganmasyarakat yang harus diperhatikan oleh pemerintah. Dengan kata lain tugas pokok pemerintah adalah melakukan pelayanan untuk masyarakat dan  melaksanakan pembangunan dalam rangka meningkatkan taraf hidup masyarakat pula. Dengan perkembangan seperti itu, semangat kepegawaian di Indonesia dapat sama dengan perkembangan kepegawaian di AS, yaitu merupakan sarana keikutsertaan rakyat di dalam kegiatan pemerintahan dan kehidupan bernegara.
Tantangan Masa Transisi
Dalam era otonomi daerah, tantangan yang dihadapi oleh birokrasi pemerintah Indonesia cukup berat. Masa transisi dapat diartikan dalam dua hal. Yang pertama, adalah masa peralihan dari suatu pemerintahan ke pemerintahan berikutnya. Peralihan kekuasaan yang terjadi dapat berlangsung secara normal atau tidak normal. Normal artinya peralihan terjadi setelah dilaksanaknnya pemilihan umum. Sedangkan yang tidak normal, misalnya karena perebutan kekuasaan atau revolusi. Yang kedua, adalah mengacu pada masyarakat yang sedang berada pada suatu tahapan perubahan dari kehidupan politik yang semula bersifat otoriter atau diktator beralih pada tatanan politik yang lebih demokratik atau sebaliknya. Kedua bentuk transisi ini sedang berlangsung secara bersamaan.

Peran yang diambil oleh birokrasi terutama dalam masa transisi, khususnya yang terkait dengan pergantian pemerintahan, tergantung pada factor penyebab pergantian tersebut. Jika pergantian kekuasaan terjadi secara normal, artinya pemerintahan baru muncul sebagai hasil pemilihan umum, maka biasanya eksekutif akan cenderung memilih birokrat berdasarkan system merit yang diperlukan untuk mendukung pemerintahannya. Birokrat yang diangkat itu kemudian mendukung kebijakan-kebijakan pemerintah baru, mengikuti standar, peraturan dan prosedur yang berlaku serta memberikan pelayanan kepada masyarakat. Dalam konteks itu, netralitas birokrasi diartikan sebagai penyeragaman perilaku birokrasi yang mekanistik, yaitu birokrasi akan melakukan hal yang sama terhadap pemerintah yang akan datang. Diikut sertakannya birokrat dalam pengambilan keputusandan tidak hanya dalam pelaksanaan, lambat laun memperkuat kedudukan birokrasi.

Ada masalah birokrasi yang ditemukan di beberapa daerah:
v   Pertama, didalam aspek kelembagaan akan terjadiakan terjadi penyempitan struktur kelembagaan dari 19 dinas menjadi 10 dinas( suatu contoh di daerah), ini akan menimbulkan beberapa jabatan hilang dan akan dirasakan oleh PNS di lingkungan pemerintah daerah. Tetapi memang di sisi lain, akan terjadi efisiensi anggaran.
v   Kedua, belum melembaganya karakteristik good governance di dalam pemerintah daerah, baik dari segi kultur dan struktur serta nomenklatur program yang mendukungnya. Sampai sekarang penerapan kaidah good governance di pemerintah daerah masih bersifat sloganistik.
v   Ketiga, yang muncul di bidang kelembagaan, terutama yang ditemukan pada Pemda di Bali, yaitu dilemma terhadap penciutan (likuidasi)  lembaga-lembaga daerah. Sebagaimana diketahui, pelaksanakan otonomi sangat dipengaruhi empat faktor, yaitu pendanaan, personil, peralatan dan pengelolaan.
v   Keempat, keberlanjutan pembangunan daerah memerlukan institusi lokal yang mampu dan berdaya dalam menghadapi tantangan dan perubahannya. Namun saat ini ada upaya-upaya untuk membentuk institusi baru, tapi tidak memperhatikan keberadaan institusi-istitusi lama yang mungkin jika ditimgkatkan dan diberdayakan dapat menjalankan peran baru dan menjawab berbagai tantangan baru. Institusi-institusi itu harus mampu mewadahi semua aspek : sosial, politik, ekonomi, dan budaya.
v   Kelima, restrukturisasi kelembagaan akan mengakibatkan pengangguran terselubung atau dipensiunkan/ pemutusan hubungan kerja (PHK). Akibatnya, banyak daerah akan menerima beban permasalahan sosial dan ekonomi yang bertambah berat.
v   Keenam,  permasalahan professionalismenya tidak jalan, sehingga berpengaruh kepada kelembagaan. Dinamika  masyarakat sangat cepat dengan bidang masalah yang semakin multidimensional menuntut. Pemda menangani permasalahan daerah secara tepat dan professional. Di samping itu masih sering terjadi penempatan pegawai yang tidak sesuai dengan keahlian.
v   Ketujuh, Meningkatnya kecenderungan untuk merekrut dan mempromosikan pegawai yang merupakan putra asli daerah. Tampaknya penerimaan pegawai tidak didahului dengan analisis kebutuhan yang rasional, tetapi lebih pada pertimbangan emosional  dan euphoria reformasi yang masih banyak dirasakna di daerah-daerah. Di samping itu juga diitemukan juga adanya beberapa pejabat birokrasi daerah yang terlibat KKN, birokrasi yang lamban, tidak responsive, tidak transparan dan sebagainya.

Pada masa transisi sekarang ini masih ditemukan beberapa kelemahan birokrasi pemerintah di daerah:
ü        Struktur organisasi dan tata kerja yang dibuat oleh masing-masing pemdahanya sekedar menampung personel dalam suatu jawaban structural;
ü        Partisipasi masyarakat masih rendah;
ü        Transparansi belum berjalan;
ü        Mekanisme kerja dan tugas yang tumpang tindih akan menyulitkan kalangan internal dan masyarakat dalam berurusan dengan pemda;
ü        Politisasi PNS tetap menggejala;
ü        Sistem karir yang tidak jelas  membuat persaingan tidak sehat;
ü        Belum siapnya aparatur birokrasi terhadap tuntutan perubahan.

Gejala Kegagalan Birokrasi
Gejala- gejala kemandegan atau kebangkrutan (discontinuity) birokrasi negara dapat mempengaruhi laju kemajuan Negara yang bersangkutan. Salah satu sebab menggejalanya korupsi di dalam tubuh birokrasi. Masalah korupsi dan semua yang terkait di dalamnya dan sampai sekarang belum terpecahkan disinggung oleh Prof. Sondang P. Siagian, MPA. Dalam bukunya yang berjudul Patologi Birokrasi Analisis, Identifikasi  dan Terapinya (1994). Ia menjelaskan secara panjang lebar dengan analogi suatu penyakit tentang patologi birokrasi, yang salah satunya adalah korupsi. Agar seluruh birokrasi pemerintahan negara mampu menghadapi  bebagai tantangan yang mungkin timbul, baik yang sifatnya politis, ekonomi, sosio-kultural danb teknologikal, dari berbagai penyakit yang mungkin sudah dideritanya atau mengancam akan menyerangnya, perlu diidentifikasikan untuk kemudian dicarikan pengobatannya yang paling efektif. Sebaliknya, tidak ada birokrasi yang menderita semua penyakit birokrasi sekaligus.

Patologi birokrasi dapat dikategorikan pada lima kelompok, yaitu:
1.        Patologi yang timbul karena persepsi dan gaya managerial para pejabat di lingkungan birokrasi;
2.        Patologi yang disebabkan oleh kurangnya atau rendahnya pengetahuan dan keterampilan para petugas pelaksana berbagai kegiatan operasional;
3.        Patologi yang timbul   karena tindakan para anggota birokrasi yang melanggar norma-norma hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
4.        Patologi yang dimanifestasikan dalam perilaku para birokratyang  bersifat disfungsional atau negative;
5.        Patologi yang merupakan akibat situasi internal dalam bebagai instansi dalam lingkungan pemerintahan.

Beberapa masalah yang ditemukan dari analisis patologi tersebut, yaitu:
a.          Persepsi, perilaku dan gaya birokrasi;
b.        Kurangnya pengetahuan dan keterampilan;
c.         Pelangaran norma-norma hukum;
d.        Lingkungan internal birokrasi;

Tata Pemerintahan yang Baik
Tata pemerintahan yang baik atau good governance dewasa ini menjadi acuan untuk perbaikan birokrasi sesuai tuntutan reformasi. Miftah Thoha menyatakan, tata pemerintahan yang baik itu merupakan sebuah konsep yang akhir-akhir ini dipergunakan secara teratur dalam ilmu politik, terutama ilmu pemerintahan dan administrasi publik. Di dalam disiplin atau profesi manajemen public, konsep itu dipandang sebagai suatu aspek dalam paradigma baru ilmu administrasi public atau ilmu pemerintahan menekankan       kepada peranan manajer public agar memberikan pelayanan yang berkualitas kepada masyarakat, mendorong, meningkatkan otonomi manajerial, terutama mengurangi campur tangan control yang dilakukan oleh pemerintah pusat, transparansi, akuntabilitas public, dan diciptakan pengelolaan manejerial yang bersih bebas dari KKN.

UNDP merumuskan good governance sebagai suatu exercise dari kewenangan politik, ekonomi, dan administrasi untuk menata, mengatur dan mengelola masalah-masalah sosialnya (UNDP:1997). Istilah governance menunjukkan suatu proses dimana rakyat bisa mengatur ekonominya, institusi dan sumber-sumber sosial dan politiknya tidak hanya dipergunakan untuk pembangunan tetapi juga untuk menciptakan kohesi, integrasi, dan kesejahteraan rakyatnya. Jelas bahwa kemampuan suatu negara mencapai tujuan pembangunan itu sangat tergantung pada kualitas tata pemerintahannya, dimana pemerintah melakukan interaksi dengan pihak swasta dan masyarakat madani. Oleh karena itu, tiga unsure penting yang saling memengaruhi dan merupakan satu kesatuan yang tidak dipisahkan adalah negara, masyarakat, dan sektor swasta yang sangat berperan dalam pembangunan ekonomi  daerah.

Ada sepuluh Prinsip Tata Pemerintahan yang Baik, yaitu:
·           Partisipasi
·           Penegakan hukum
·           Transparansi
·           Kesetaraan
·           Daya tanggap
·           Wawasan ke depan
·           Akuntabilitas
·           Pengawasan
·           Efisiensi dan efektivitas
·           Profesionalisme




DAFTAR PUSTAKA

Sarundajang. 2005. Birokrasi Dalam Otonomi Daerah: Upaya Mengatasi Kegagalannya. Jakarta: Kata Hasta Pustaka 

EKOLOGI ADMINISTRASI NEGARA THAILAND


Ditinjau dari segi geografis negara Thailand terbagi menjadi enam bagian antara lain, di bagian utara terdapat perbukitan dimana gajah-gajah bekerja di hutan dan udara musim dinginnya cukup baik. Disebelah timur laut terdapat plateu yang luas yang berbatasan dengan Sungai Mekong, dataran tengah yang sangat subur, daerah pantai timur dengan resor-resor musim panas di atas hamparan pasir putih, pegunungan dan lembah di barat, serta daerah selatan yang sangat cantik. Disebelah barat dan utara berbatasan dengan Myanmar, di timur laut berbatasan dengan Laos, di timur berbatasan dengan Kamboja dan sebelah selatan berbatasan dengan Malaysia. Kekuasaan tertinggi negara ini dipegang oleh seorang Raja. Sistem pemerintahannya adalah konstitusional Monarki absolute. Dalam pemerintahannya negara Thailand dipimpin oleh Perdana Menteri dari anggota-anggota parlemen dari pemimpin partai yang mayoritas.

Faktor – Faktor Ekologis yang Mempengaruhi Administrasi Negara Thailand dan Sebaliknya

›    Pengaruh faktor ekonomi terhadap administrasi negara Thailand dan pengaruh administrasi negara mempengaruhi ekonomi negara Thailand.

Ekonomi Thailand tidak didasarkan pada sistem pasar, tetapi berdasarkan pada sistem redistribusi. Kegiatan export-import dikendalikan oleh Raja. Barang yang yang dihasilkan dihimpun dalam satu pusat penimbunan pusat, kemudian pusat membagi ke dalam sektor-sektor tertentu dalam jumlah tertentu. Jabatan-jabatan administrasi negara didistribusikan oleh Raja kepada pegawai-pegawainya dalam melakukan distribusi barang dan jasa. Oleh karena itu terdapat percampuran antara ekonomi dengan administrasi. Sehingga tidak dapat dibedakan antara tindakan Raja sebagai administrator atau sebagai ekonomi.

Dalam modernisasinya  sistem redistribusi berangsur berubah menjadi sistem pasar yang diperkenalkan melalui pandangan baru dan pengaruh dari dunia luar. Demikian pula dengan fungsi administrasi negara yang berkembang dari fungsi sebagai aparat Raja untuk menguasai rakyatnya, kemudian berfungsi sebagai public service. Namun tugas dan fungsi yang dikerjakan oleh administrasi bertambah banyak dan semakin kompleks, sehingga menambah anggaran belanja. Pertambahan anggaran tersebut tidak diimbangi dengan peningkatan produktivitas di bidang ekonomi, hal ini menyebabkan administrasi negara mengalami keterbatasan alat-alat dan fasilitas.
Terdapat persamaan ciri-ciri antara ekonomi redistribusi dengan ekonomi pasar. Hal ini juga mempengaruhi administrasi negara dilihat dari jabatan-jabatan yang diisi dengan seleksi melalui ujian kompetisi, terdapat juga jabatan-jabatan yang tersedia untuk kalangan-kalangan tertentu.
   
›    Pengaruh faktor sosial terhadap administrasi Negara Thailand dan pengaruh administrasi Negara Thailand terhadap faktor sosial.

Di Thailand organisasi-organisasi sosial tidak dasarkan atas kepentingan-kepentingan khusus dan keanggotaannyapun tidak didasarkan atas sukarela. Organisasi sosialnya didasarkan pada particularistic, yaitu berdasar pada hal-hal tertentu saja seperti agama, keturunan, status dan sebagainya dan dijalankan sesuai dengan fungsinya. Pengaruh faktor sosial terhadap administrasi negara, administrasi tidak berperan dalam pembuatan kebijakan yang tepat untuk rakyat, melainkan berperan dalam mengimplementasikan kebijakan tersebut untuk rakyat dan menilai apakah kelompok-kelompok sosial berpartisipasi untuk Raja atau sebaliknya.
Negara Thailand struktur kelasnya tidak tertutup atau terbuka, melainkan diantara tertutup dan terbuka meskipun sifatnya lebih berat. Seperti keluarga Raja atau bangsawan- bangsawan dari generasi ke generasi dapat menjadi orang biasa. Sebaliknya orang-orang biasa yang mendapat penghargaan dari Raja dapat naik ke tingkat atas. Walaupun demikian terdapat keluarga Raja yang tidak mendapat posisi, tetapi ada pula keluarga orang biasa yang menduduki posisi-posisi yang relatif tinggi
Setelah mengalami modernisasi  masyarakat yang semula tergabung dalam organisasi sosial yang berdasar pada asas particularistic kemudian berhimpun dalam organisasi baru yang bercorak association (atas dasar kepentingan bersama). Yang mempunyai peranan dan mempengaruhi administrasi Negara yaitu organisasi yang bersifat particularistic, karena organisasi baru yang bercorak ossociation belum meresap di kalangan masyarakat sehingga belum mempunyai pengaruh terhadap administrasi Negara.
Dalam struktur kelasnya, Negara Thailand berangsur bersifat terbuka, yang mempunyai dampak terhadap administrasi Negara. Dengan sifat struktur yang terbuka maka terdapat kemungkinan adanya perpindahan dari satu klas ke klas yang lain. Sehingga terdapat kelompok-kelompok masyarakat tertentu yang tadinya tidak dapat menduduki jabatan tertentu, setelah adanya struktur terbuka ini kelompok tersebut dapat menduduki jabatan tertentu bahkan yang tertinggi sekalipun.

›    Pengaruh faktor jaringan komunikasi terhadap administrasi Negara dan pengaruh administrasi Negara terhadap faktor jaringan komunikasi

Dalam  bidang komunikasi, Negara Thailand bermasalah pada penggunaan bahasa yang masih beraneka ragam. Karena bahasa yang digunakan oleh Kerajaaan/Istana berbeda dengan bahasa yang digunakan oleh masyarakat sehingga kebijakan-kebijakan yang dirumuskan tidak dapat dipahami oleh rakyat karena perbedaan bahasa yang digunakan. Dampaknya terhadap administrasi negara, yaitu perilaku administrasi negara yang kurang responsif terhadap permintaan publik karena adanya communication-gap tersebut. Perilaku administrasi negara kurang mencerminkan keinginan-keinginan dari masyarakat begitu pun sebaliknya. Administrator negara cenderung bertindak arbiter (sewenang-wenang).
Pada perkembangannya masyarakat Thailand sedikit demi sedikit sudah mulai mobilisasi dan terasimilasikan. Dengan adanya komunikasi terbuka tersebut dan administrasi Negara dengan alat-alat terbatas, maka dengan bahasa yang sudah cukup dimengerti dapat menyampaikan program-programnya dan harapan-harapan rakyat disampaikan kepada pemerintah. Namun kerena komunikasi yang sangat terbatas, maka masyarakat belum dapat mengontrol secra efektif administrasi negara begitupun sebaliknya. 

›    Pengaruh faktor symbol system terhadap administrasi Negara dan pengaruh administrasi Negara terhadap faktor symbol system

Thailand memiliki simbol tradisional yaitu raja mempunyai dasar yang sakral dan kerajaan merupakan ciptaan Tuhan yang tidak dapat dipecahkan oleh siapapun. Hal yang bersifat sakral diwujudkan pada diri Raja yang dianggap sebagai keturunan yang memperoleh mandat dari Tuhan untuk menyelenggarakan pemerintahan. Lambat laun negara Thailand mendapat pengaruh dari luar symbol tersebut berubah menjadi simbol baru yaitu kedaulatan rakyat. Pemerintahan tidak dilakukan lagi oleh Raja seorang diri tetapi perlu didampingi oleh badan yang mewakili rakyat yang menjalankan kedaulatan rakyat.

›    Pengaruh faktor politik terhadap administrasi Negara dan pengaruh administrasi negara terhadap faktor politik

Negara Thailand sistem pemerintahan bersifat otokratis, kekuasaan penuh dijalankan atau diatur sepenuhnya oleh Raja. Keadaan seperti ini  kurang atau tidak berpartisipasi dalam pemerintahan atau politik. Tindakan-tindakan Raja tidak hanya di bidang politik saja namun disemua bidang, sehingga sulit untuk melihat pengaruh politik terhadap administrasi negara. Dalam konteks administrasi negara Thailand yang bersifat otokratis, maka inputnya adalah Raja. Raja yang terlibat dalam pembuatan keputusan dan hanya Raja saja yang mempunyai bahan untuk membuat keputusan. Sedangkan outputnya berupa policy dan Raja yang melaksanakannya. Jadi administrasi Negara Thailand merupakan produk dari lingkungan sosialnya.





DAFTAR PUSTAKA


Pamudji.  2004. Ekologi Administrasi Negara. Jakarta. Bumi Aksara.